Minggu, 11 Juli 2010

kasus infeksi odontogen

Kasus
Pasien laki-laki, 35 tahun, dengan keluhan utama terdapat pembengkakan di bawah dagu yang terasa hangat dan keras,susah makan terutama makanan padat, tetapi masih dapat minum. Sembilan hari sebelumnya penderita mengeluh sakit pada gigi geraham kiri bawah, lalu berobat diPuskesmas namun tidak ada perubahan. Pasien merasa ada cairan nanah yang merembes keluar melalui akar giginya yang rusak. Dua hari sebelum masuk RS penderita tidak dapat membuka mulut dan disertai suhu badan yang agak tinggi, sakit kepala namun sesak belum ada.

Pemeriksaan Fisis:
Keadaan umum: sedikit lemah/gizi cukup/ sadar. Tanda vital: tekanan darah (TD):120/80 mm Hg, nadi (N): 100x/mnt, suhu (S): 38,5oC, pernapasan (P): 28x/mnt. Terlihat trismus ± 2 cm, hipersalivasi. Melalui celah di antara gigi tampak sisa gangren radiks pada M3 kiri bawah. Sesak belum dirasakan oleh penderita.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium:
Hb:13g/dL, lekosit: 20x103/mm3, eritrosit: 4.48x106/mm3,trombosit: 247x103/mm3, GDS: 229 mg/dL, ureum: 90.7 u/L, kreatinin: 1,47 u/L, SGOT: 78.3 u/L, SGPT: 52.7 u/L.
Radiologi:
Foto panoramic : karies profunda perforasi gigi M3 bawah kiri disertai Absea periapikal.

Diagnosis: angina Ludwig
Tetapi harus ada pemeriksaan yang lain : yaitu Inspeksi: apabila hasil fluktuasi di bawah leher, batas tidak jelas, saat dipalpasi kesan seperti papan, teraba panas, tetapi tidak nyeri. Apabila hasil fluktuasinya ada kasus ini dapat didiagnosa sebagai Ludwig angina.

Penatalaksanaan :
Setelah diagnosis angina Ludwig ditegakkan, maka penanganan yang utama adalah menjamin jalan nafas yang stabil melalui trakeostomi yang dilakukan dengan anestesialokal. Trakeostomi dilakukan tanpa harus menunggu terjadinya dispnea atau sianosis karena tanda-tandaobstruksi jalan nafas yang sudah lanjut. Jika terjadi sumbatan jalan nafas maka pasien dalam keadaan gawatdarurat.kemudian diberikan antibiotik dosis tinggi danberspektrum luas secara intravena untuk organisme grampositifdan gram-negatif serta kuman aerob dan anaerob.Antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil kultur danhasil sensitifitas pus. Antibiotik yang digunakan adalah PenicilinG dosis tinggi, kadang-kadang dapat dikombinasikandengan obat antistaphylococcus atau metronidazole. Jika pasienalergi pinicillin, maka clindamycin hydrochloride adalahpilihan yang terbaik. Dexamethasone yang disuntikkan secaraintravena, diberikan dalam 48 jam untuk mengurangi edemdan perlindungan jalan nafas. Selain itu dilakukan eksplorasi yang dilakukan untuk tujuan dekompresi (mengurangi ketegangan) dan evaluasipus, pada angina Ludwig jarang terdapat pus atau jaringannekrosis. Eksplorasi lebih dalam dapat dilakukan memakaicunam tumpul. Jika terbentuk nanah dilakukan insisi dandrainase. Insisi dilakukan di garis tengah secara horizontalsetinggi os. hyoid (3–4 jari di bawah mandibula). Insisidilakukan di bawah dan paralel dengan korpus mandibulamelalui fasia dalam sampai ke kedalaman kelenjarsubmaksilar. Insisi vertikal tambahan dapat dibuat di atasos. hyoid sampai batas bawah dagu.Setelah dilakukan perawatan ini dilakukan konsul ekstraksi sisa akar gigi M3 kiri bawah, jika trismus berkurang. Perlu juga dilakukan pengobatan terhadap infeksi gigi untuk mencegah kekambuhan.Pasien juga memerlukan konsul Penyakit Dalam karena mungkin terdapat gangguan fungsi ginjal disebabkan oleh intake cairan tidak adekuat. rehidrasi (keseimbangan cairan), kontrol ulang ureum dan kreatinin beberapa hari kemudian, memeriksa GDP, TTGO. Apabila keadaan pasien telah membaik dengan Trismus ± 3 cm, odinofagi (±), disfagia mulai berkurang, pus sisa sedikit pada drain maka dapat dilakukan ekstraksi gigi M3 tersebut dan Pasien dirawat inap sampai infeksi reda.


Hubungan Antara Infeksi Odontogen Dengan Kenaikan Kadar SGOT Dan SGPT
Pada kasus diatas terdapat pembengkakan didagu penderita yang merupakan suatu keradangan yang disebabkan oleh gigi. Jaringan atau struktur yang berada disekitar gigi merupakan suatu potential space yang bisa merupakan tempat bagi bersarangnya produk-produk dari keradangan pada saat infeksi odontogenik. Sehingga hal ini mengakibatkan adanya akumulasi metabolit – metabolit dalam tubuh yang menyebabkan timbulnya oxidative stress di sekitar jaringan terinfeksi. Timbulnya oxidative stress ini yang akhirnya akan menimbulkan kerusakan sel yang diikuti dengan peningkatan kadar SGPT dan SGOT. produk SGPT dan SGOT tidak 100% dihasilkan oleh liver. Sebagian kecil juga diproduksi oleh sel otot, jantung, pankreas, dan ginjal. Oleh karena itu, jika sel-sel otot mengalami kerusakan, kadar kedua enzim ini pun meningkat. Dikasus ini juga dapat dilihat bahwa otot pada jaringan yang mengalami pembengkakan itu mengalami kerusakan hal ini juga dapat menjadi salah satu factor meningkatnya SGOT-SGPT.

 Untuk lebih lengkapnya silahkan dibaca dan dicari sumber-sumbernya dengan mencari buku-buku dibawah ini :

1. Atessahin A, S Yilmaz, I Karahan, I Pirincci, B Tasdemir. 2005. The Effects of Vitamin E and Selenium on Cypermethrin Induced Oxidative Stress in Rats. Turkey Journal Veteriner Animal Science Vol.29 : 385-391.
2. Jawi IM, DN Suprapta, IWP Sutirtayasa. 2007. Efek Antioksidan Ekstrak Umbi Jalar Ungu Terhadap Hati Setelah Aktivitas Fisik Maksimal Dengan Melihat Kadar ALT dan AST Pada Darah Mencit. Dexa Media No. 3 Vol.20 (103-106).
3. Meyes PA, DK Granner, VW Rodwell & DW Martin. 1991 . Biokimia. Alih Bahasa Iyan Darmawan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
4. Sadikin M. 2002. Biokimia Enzim. Jakarta : Penerbit Widya Medika Jakarta.
5. Wibowo AW, L Maslachah & R. Bijanti. 2008. Pengaruh Pemberian Perasan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) terhadap Kadar SGOT dan SGPT Tikus Putih(Rattus norvegicus) Diet Tinggi Lemak .Jurnal Veterineria Medika Universitas Airlangga Vol. 1: 1- 5.
6. Mansjoer A, et al. Angina ludwig. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi3. Jakarta:Media Aesculapius; 2000.p.124-5
7. Bailey BJ. Odontogenic infection. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 2nd ed. Philadelphia:Lippincott-Raven; 1998.p.673-5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar